PEMATANGSIANTAR — Kepala KPWBI Pematangsiantar Ahmadi Rahman menyatakan Pematangsiantar dan Simalungun punya karakteristik ekonomi yang saling melengkapi. Simalungun berbasis pertanian dan industri pengolahan, sementara Pematangsiantar tumbuh sebagai pusat perdagangan dan jasa.
Forum yang mengusung tema "Sinergi Kawasan, Akselerasi Pertumbuhan: Mengoptimalkan Dampak Pengganda KEK Sei Mangkei bagi Pematangsiantar-Simalungun" itu membahas langkah strategis memperkuat keterhubungan antarsektor. Kegiatan disebut sebagai bagian dari komitmen Bank Indonesia mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB USU, Wahyu Sugeng Imam Soepamo, menilai dampak ekonomi KEK tidak akan datang sendiri. Perlu penguatan keterkaitan antara kawasan industri dan pelaku usaha di daerah sekitar.
"Satu kawasan, dua fungsi ekonomi yang saling melengkapi. Kuncinya adalah keterhubungan, kesiapan, dan kolaborasi," kata Wahyu.
Ia memperingatkan, tanpa rantai pasok lokal yang kuat, sumber daya dan tenaga kerja terbaik berisiko tersedot keluar wilayah. Alih-alih menetap dan berputar di dalam daerah, manfaat ekonomi justru mengalir ke luar Pematangsiantar-Simalungun.
Pemerintah Kota Pematangsiantar menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan sinergi kedua wilayah. Mewakili Wali Kota Pematangsiantar, Fidelis Sembiring menyebut integrasi ekonomi Pematangsiantar-Simalungun dapat membuka peluang usaha baru dan lapangan kerja.
"Pemerintah Kota Pematangsiantar mendorong penuh sinergi antara Pematangsiantar dan Simalungun. Sinergi ini akan membuka kesempatan usaha baru, meningkatkan kesempatan kerja, dan pada akhirnya bermuara pada dorongan kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Dari sisi kawasan industri, Direktur PT Kawasan Industri Nusantara (Kinra), Alwin Abdi, menyatakan kesiapan pengelola mendorong pelaku UMKM di sekitar KEK. Mereka diarahkan agar dapat memenuhi kebutuhan industri melalui program Link and Match IKM.
Skema itu menyambungkan usaha kecil dan menengah di sekitar kawasan dengan permintaan barang dan jasa dari perusahaan-perusahaan penghuni KEK Sei Mangkei. Tujuannya agar belanja industri tidak seluruhnya dipasok dari luar daerah.
HORJA Economic Forum 2026 menjadi ruang pertemuan pemangku kepentingan dari kedua wilayah. Pembahasan berfokus pada langkah konkret memperkuat keterhubungan antarsektor, sejalan dengan upaya mengoptimalkan dampak pengganda KEK Sei Mangkei bagi perekonomian Pematangsiantar dan Simalungun.