SUMATERA UTARA — Climate Impact Lab (CIL) University of Chicago memproyeksikan 19.300 kematian berlebih di Indonesia terkait suhu panas El Nino periode September 2026–Februari 2027. Angka ini dibandingkan rata-rata periode sama 1996–2025 dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berisiko tertinggi dari 40 negara yang diteliti. Metodologi ekstrapolasi data jadi sorotan karena registrasi kematian nasional belum lengkap.
Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan riset yang dirilis akhir September lalu. CIL menghitung kematian berlebih dari berbagai penyebab yang secara statistik berkaitan dengan kenaikan suhu, bukan jumlah orang yang diprediksi meninggal langsung akibat heatstroke. Saat publikasi, metodologi CIL masih dalam proses peer-review penuh.
Indonesia masuk dalam 40 negara yang dianalisis CIL. Dari jumlah itu, proyeksi kematian Indonesia tercatat paling tinggi. Penyebabnya bukan semata faktor iklim, melainkan kombinasi suhu dan pendapatan yang dipakai model untuk mencocokkan pola Indonesia dengan negara lain yang serupa.
El Nino yang sedang berlangsung memperkuat urgensi laporan ini. Namun pertanyaan besarnya: bagaimana menjelaskan belasan ribu kematian akibat El Nino di negara yang tidak punya data kematian real-time?
Laporan Statistik Hayati Indonesia 2019–2023 yang dirilis BPS, Bappenas, Kemendagri, dan Kemenkes menunjukkan registrasi kematian hanya tercatat 56,7%. Artinya dari seluruh kematian yang sebenarnya terjadi pada 2023, hanya sekitar 56,7% yang punya akta kematian resmi di sistem Dukcapil.
Kondisi ini membuat data kematian Indonesia tidak bisa dipakai sebagai materi penghitungan langsung. Berbeda dengan Eropa yang memiliki sistem pemantauan mingguan.
EuroMOMO adalah jaringan 29 negara Eropa yang sejak 2008 menjalankan pemantauan mingguan kematian warga. Setiap negara melaporkan jumlah kematian aktual minggu itu dari catatan sipil nasional. Angka ril ini dibandingkan dengan baseline kematian dari tren historis per kelompok umur.
Lonjakan di luar tren diidentifikasi sebagai excess mortality. Hasilnya, tiap negara bisa langsung membandingkan angka kematiannya dengan negara lain. Misalnya excess death di Jerman bisa dibandingkan dengan Prancis atau Inggris.
Studi Joan Ballester Claramunt dari Barcelona Institute for Global Health bersama tim peneliti global yang diterbitkan di Nature Medicine 2023 menyebut 61 ribu kasus excess death akibat suhu panas di Eropa 2022. Angka itu dihitung dari data registrasi lengkap, bukan diprediksi dari model negara lain.
Statistik ekstrapolasi adalah cara memperkirakan nilai di luar rentang data yang tersedia, dengan asumsi pola yang terlihat akan tetap berlaku. Tim CIL mengambil pola hubungan antara kenaikan suhu dan kematian dari 40 negara yang dianggap mirip Indonesia dalam hal iklim dan pendapatan.
Pola itu kemudian diterapkan ke Indonesia dengan asumsi hasilnya serupa atau setidaknya mendekati. Variabel yang dipakai adalah data iklim jangka panjang dan pendapatan untuk mencocokkan kondisi Indonesia dengan pola negara lain.
Meski memberi ruang untuk menghitung angka, metode ini tidak bisa divalidasi untuk kasus spesifik yang datanya tidak ada. Tim CIL sendiri mengakui tidak bisa melakukan backtest kasus excess rate pada El Nino 1997–98 atau 2015–16.
Ketersediaan data dari pengukuran langsung seperti EuroMOMO jauh lebih superior dibanding data ekstrapolasi. Untuk Indonesia, proyeksi 19.300 kematian berlebih perlu dibaca sebagai estimasi statistik, bukan angka pasti. Angka ini bergantung pada asumsi kesesuaian antara negara baseline dan kondisi Indonesia.
Yang jelas, keterbatasan registrasi kematian nasional membuat Indonesia sulit mengukur dampak kesehatan dari fenomena iklim secara akurat. Perbaikan sistem pencatatan sipil jadi prasyarat jika ingin kebijakan kesehatan berbasis bukti yang solid.