MEDAN — Gaya hidup hemat atau frugal living kini mulai diterima luas sebagai bagian dari cara menampilkan diri dan identitas modern bagi generasi muda di Sumatera Utara. Fenomena ini menandai berakhirnya stigma lama yang memandang perilaku hemat sebagai simbol kekurangan finansial atau kemiskinan.
Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menjelaskan bahwa bagi anak muda saat ini, berhemat merupakan sebuah pilihan sadar. Perilaku konsumsi kini lebih mengedepankan rasionalitas dengan mempertimbangkan kesesuaian antara biaya yang dikeluarkan dengan manfaat nyata yang diterima.
“Sekarang hemat itu adalah pilihan sadar, karena kita memang mau hemat saja, enggak mau boros,” ujar Semiarto baru-baru ini.
Pergeseran Nilai dari Pamer Status Menjadi Disiplin Diri
Perubahan perilaku konsumsi di kalangan masyarakat urban, termasuk di kota-kota besar Sumatera Utara, dipengaruhi oleh munculnya etika baru untuk menghindari konsumsi berlebihan. Tren ini mengubah orientasi anak muda yang sebelumnya mengejar simbol status melalui kemewahan menjadi penekanan pada kontrol diri.
Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia tersebut menilai telah terjadi proses pembingkaian ulang atau reframing terhadap nilai-nilai konsumsi di tengah masyarakat.
“Dalam bahasa antropologi itu kita sebut sebagai reframing, mengerangkai ulang nilai konsumsi dari sekadar pamer status menjadi disiplin diri,” kata Semiarto menjelaskan fenomena tersebut.
Estetika Sederhana dan Citra Diri di Media Sosial
Frugal living kini tidak lagi dipandang sebagai sikap pelit, melainkan bagian dari self-presentation atau cara seseorang membangun identitas sosialnya. Di ruang publik maupun media sosial, penampilan yang simpel dan bersih justru dianggap memiliki nilai estetika yang lebih tinggi dan terlihat keren.
“Sekarang bicara penampilan itu yang clean, yang bersih, simple, itu keren,” ujar Semiarto menambahkan.
Anak muda saat ini cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uang mereka. Fokus utama bukan lagi pada merek atau harga yang mahal, melainkan pada fungsionalitas dan kewajaran harga barang tersebut di pasar.
Membangun Etika Baru Masyarakat Urban
Munculnya kesadaran untuk tidak melakukan over consumption menjadi fondasi utama gaya hidup ini. Masyarakat mulai merasa cukup dengan kebutuhan yang wajar tanpa harus memaksakan diri membeli barang-barang yang tidak diperlukan hanya demi pengakuan sosial.
“Jangan boros-boros, jangan over consumption, enggak perlu lagi beli yang mahal-mahal atau yang berlebih, cukup saja,” tuturnya.
Semiarto menegaskan bahwa frugal living adalah cara individu menampilkan identitas sosialnya di hadapan publik secara lebih bermartabat. Dengan disiplin keuangan yang ketat, generasi muda justru merasa lebih memiliki kendali penuh atas hidup dan masa depan mereka.