Pencarian

Muswil KAHMI Sumut Diwarnai Pengunduran Diri Presidium Terpilih, Sugiat Santoso Mundur Setelah Raih Suara Setara Kepala Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 • 15:33:51 WIB
Muswil KAHMI Sumut Diwarnai Pengunduran Diri Presidium Terpilih, Sugiat Santoso Mundur Setelah Raih Suara Setara Kepala Sekolah
Sugiat Santoso mengundurkan diri dari posisi Presidium KAHMI Sumut usai pemilihan Muswil VII.

MEDAN — Sugiat Santoso, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, memutuskan mundur dari posisi Presidium KAHMI Sumut tak lama setelah dinyatakan terpilih. Keputusan itu diumumkan di tengah forum Musyawarah Wilayah (Muswil) VII KAHMI Sumatera Utara, saat struktur kepengurusan baru mulai terbentuk.

Fakta yang mengejutkan: perolehan suara Sugiat sama persis dengan Mansyur Pasaribu, seorang kepala sekolah di tingkat kabupaten. Masing-masing mengantongi 15 suara dari total 25 suara yang diperebutkan. Dalam tradisi organisasi kader, angka ini menunjukkan bahwa legitimasi di KAHMI tidak otomatis mengikuti hierarki kekuasaan formal negara.

Mengapa Seorang Anggota DPR RI Mundur Setelah Menang Suara?

Pengunduran diri yang terjadi setelah proses pemilihan—bukan sebelumnya—membuka ruang tafsir lebih dalam. Dalam sosiologi organisasi, fase pasca-pemilihan adalah masa paling rawan karena energi kompetisi belum sepenuhnya reda. Langkah Sugiat dibaca bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan indikasi adanya tekanan dari dinamika internal.

Sugiat menyampaikan alasan yang tidak gamblang di forum. Namun dalam organisasi intelektual seperti KAHMI, keputusan mundur bisa dimaknai sebagai upaya mencegah pembelahan horizontal yang lebih luas. Ini mengingatkan pada strategi manajemen konflik di mana seorang elite memilih menarik diri demi menjaga stabilitas forum dan reputasi politik nasionalnya.

Ironi Kekuasaan: Suara Setara Antara Politisi Nasional dan Kepala Sekolah

Peristiwa ini memperlihatkan konfigurasi kekuatan di tubuh KAHMI MD Sumut tidak semata ditentukan oleh jabatan publik atau akses ke kekuasaan negara. Kedekatan emosional, jaringan kaderisasi, dan pengaruh sosial di akar organisasi ternyata menjadi faktor penentu yang setara—bahkan bisa lebih kuat—dibanding simbol kekuasaan formal yang dibawa elite nasional.

Mansyur Pasaribu, yang kesehariannya memimpin sebuah sekolah di kabupaten, berhasil meraih legitimasi yang sama dengan Sugiat yang duduk di komisi strategis DPR RI. Realitas forum itu langsung memunculkan tafsir tentang adanya resistensi internal terhadap dominasi elite nasional, atau setidaknya keinginan untuk menciptakan keseimbangan baru dalam arah kepemimpinan organisasi.

Kompetisi Keras Sejak Awal: Muswil Bukan Sekadar Administratif

Muswil VII KAHMI Sumut sejak awal sudah diwarnai pertarungan pengaruh yang ketat. Forum yang semula diproyeksikan sebagai ajang konsolidasi intelektual justru berubah menjadi arena negosiasi pengaruh antar faksi. Pengunduran diri Sugiat menjadi puncak dari dinamika yang telah berlangsung, di mana keputusan besar hampir tidak pernah lahir dalam ruang kosong di organisasi kader.

Publik organisasi kini menunggu langkah selanjutnya dari struktur presidium yang baru terbentuk. Pertanyaan yang mengemuka: apakah pengunduran diri ini akan memicu efek domino, atau justru menjadi titik awal rekonsiliasi internal di tubuh KAHMI Sumut?

Bagikan
Sumber: kbanews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks