SUMATERA UTARA — Pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) tengah bergerak cepat. Data Omdia menunjukkan pengiriman global kacamata AI mencapai 8,7 juta unit pada 2025, naik lebih dari 300 persen dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, angka tersebut diproyeksikan menembus 15 juta unit.
Meta sudah menjual kacamata Ray-Ban dengan kemampuan AI sejak 2023. Google membangun platform Android XR, sementara Apple disebut-sebut akan segera masuk. Samsung pun dikabarkan akan meluncurkan kacamata AI hasil kolaborasi dengan Gentle Monster pada Juli mendatang di London. Di China, Huawei, Alibaba, dan Xiaomi juga ikut bergerak.
Di tengah hiruk-pikuk raksasa teknologi itu, LetinAR memilih fokus pada satu komponen yang menurut mereka paling krusial: lensa.
Mengapa Lensa Jadi Komponen Paling Sulit
CEO LetinAR, Jaehyeok Kim, dan CTO Jeonghun Ha—dua sahabat sejak SMA yang mendirikan perusahaan pada 2016—melihat persoalan utama kacamata pintar bukan pada kecerdasan buatannya, melainkan pada optik. "Kami melihat kacamata AI sebagai platform berikutnya. Modul optik adalah bagian tersulit yang harus benar," ujar Kim.
Modul optik adalah komponen kecil di dalam lensa yang memproyeksikan gambar ke bidang pandang pengguna. Komponen ini harus tipis, ringan, hemat daya, tapi tetap mampu menampilkan gambar yang tajam dan terang. Jika gagal, kacamata pintar akan terasa seperti perangkat fiksi ilmiah yang berat dan tidak nyaman dipakai ke kantor.
PinTILT: Jalan Tengah Antara Tipis dan Terang
LetinAR mengembangkan teknologi bernama PinTILT. Teknologi ini mengatur elemen optik mikro di dalam lensa agar cahaya diarahkan tepat ke mata pengguna, bukan disebar ke segala arah.
Ha menjelaskan, pendekatan yang dominan saat ini adalah waveguide. Cara kerjanya mirip televisi: cahaya disebar ke seluruh permukaan lensa untuk menghasilkan gambar lebar. Hasilnya lensa tipis, tapi boros daya karena banyak cahaya terbuang sebelum sampai ke mata. Akibatnya, gambar redup dan baterai cepat habis.
Pendekatan lain, birdbath yang berbasis cermin, memang lebih efisien dalam mengarahkan cahaya ke mata. Namun, struktur optiknya membuat lensa menjadi tebal dan sulit disembunyikan di bingkai kacamata normal.
PinTILT disebut mampu menggabungkan kelebihan keduanya. "Kami hanya memfokuskan cahaya yang benar-benar bisa masuk ke mata, lalu merekayasa sudut setiap elemen di dalam lensa," kata Ha. Hasilnya, gambar lebih terang di lensa yang lebih tipis.
Dari Bantalan Motor Balap hingga Kantor
Salah satu skenario penggunaan awal teknologi ini adalah helm motor. Bayangkan Anda mengendarai motor di jalan tol, lalu panah navigasi muncul mengambang di aspal—tepat di tikungan yang harus diambil. Tidak perlu menoleh ke ponsel atau dasbor. Cukup lewat lensa kecil di dalam helm. Teknologi ini disebut akan mulai hadir di jalanan Eropa tahun ini.
Namun, target akhir LetinAR lebih luas: kacamata pintar yang terlihat seperti kacamata biasa. Perusahaan ingin menjadi pemasok modul optik bagi produsen kacamata AI global.
Investasi terbaru dari Korea Development Bank dan Lotte Ventures akan digunakan untuk mempercepat pengembangan dan produksi massal. LG Electronics, yang merupakan investor awal, kabarnya sudah mulai mengembangkan kacamata AI sendiri—tanda bahwa raksasa elektronik Korea itu serius bermain di kategori ini.
Pertanyaan besarnya sekarang: mampukah LetinAR memproduksi lensa dalam volume besar dengan harga yang terjangkau? Jawabannya akan menentukan apakah kacamata AI benar-benar bisa menjadi perangkat yang dipakai orang setiap hari, bukan sekadar gawai pamer di acara teknologi.