Pencarian

Tesla Ganti Nama FSD di China Jadi ‘Tesla Assisted Driving’, Akui Sistem Belum Sepenuhnya Otonom

Minggu, 24 Mei 2026 • 13:24:40 WIB
Tesla Ganti Nama FSD di China Jadi ‘Tesla Assisted Driving’, Akui Sistem Belum Sepenuhnya Otonom
Tesla resmi ganti nama FSD di China menjadi 'Tesla Assisted Driving' tanpa klaim otonomi penuh.

SUMATERA UTARA — Regulator China kembali memaksa Tesla untuk lebih jujur dalam memasarkan sistem bantuan pengemudinya. Pekan ini, di situs resmi Tesla China, nama ‘FSD Intelligent Assisted Driving’ resmi diganti menjadi ‘???????’ atau ‘Tesla Assisted Driving’. Perubahan ini menghapus kata ‘Intelligent’ (cerdas) yang sebelumnya disematkan, dan menggantinya dengan nama merek.

Selama lebih dari satu dekade, Tesla menjual janji mobil yang bisa menyetir sendiri. Bahkan, CEO Elon Musk berulang kali menyatakan setiap mobil yang diproduksi telah memiliki perangkat keras lengkap untuk otonomi penuh. Kenyataannya, sistem tersebut masih berada di level 2 dalam klasifikasi standar industri—artinya, pengemudi manusia tetap bertanggung jawab penuh atas kendaraan.

Jurang Antara Janji dan Realita yang Semakin Terlihat

Di Amerika Serikat, Tesla sudah berseteru dengan regulator California yang memaksa mereka menambahkan kata ‘(Supervised)’ di belakang nama FSD. Namun, China mengambil langkah lebih tegas. Negeri Tirai Bambu baru saja memberlakukan regulasi ketat yang membalikkan tren gagang pintu tersembunyi (flush door handle) yang dipopulerkan Tesla—sebuah indikasi bahwa regulator China tidak segan mengoreksi desain yang dianggap mengorbankan keselamatan demi estetika.

Nama ‘Full Self-Driving’ sendiri sudah lama menjadi sasaran kritik. Sistem yang dijual hingga USD 15.000 (sekitar Rp 240 juta) di AS itu nyatanya tidak lebih dari Advanced Driver Assist System (ADAS) level 2 yang canggih. “Membangun merek di atas kebohongan adalah masalah, terutama ketika menyangkut keselamatan publik,” demikian kritik yang kerap muncul dari pengamat industri.

Hong Kong Masih Pertahankan Nama ‘Full Self-Driving’

Menariknya, perubahan nama ini hanya berlaku di China daratan. Di Hong Kong—yang merupakan wilayah administratif khusus dengan kewenangan otonom dalam lalu lintas—Tesla masih menjual sistem tersebut dengan nama ‘Full Self-Driving’ di situs berbahasa Inggris, atau ‘fully automatic driving function’ di versi Mandarin. Hong Kong menggunakan setir kanan, berbeda dengan China daratan yang setir kiri.

Belum jelas apakah perubahan nama ini akan diikuti dengan penyesuaian kemampuan teknis sistem di China. Sebelumnya, Tesla sempat meluncurkan FSD di pasar China, lalu menariknya kembali. Kini, dengan nama yang lebih realistis, Tesla Assisted Driving setidaknya mengurangi potensi tuntutan hukum dari konsumen yang merasa tertipu oleh janji otonomi penuh yang tak kunjung terwujud.

Langkah China ini bisa menjadi preseden bagi regulator di negara lain, termasuk Indonesia, untuk meninjau ulang klaim pemasaran sistem bantuan mengemudi. Sebab, selama bertahun-tahun, janji ‘mobil bisa menyetir sendiri’ telah menjadi senjata pemasaran yang ampuh—meski faktanya, teknologi tersebut belum siap lepas dari kendali manusia.

Bagikan
Sumber: electrek.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks