SUMATERA UTARA — Nasib PT INTI kini berada di ujung tanduk. Perusahaan yang pernah menjadi pemasok tunggal infrastruktur telekomunikasi nasional pada era 1980-an itu disebut membebani operasional negara karena kondisi keuangannya yang kritis. "Tata kelola tidak berjalan optimal," ujar Dony Oskaria dalam pernyataannya.
PT INTI bukan satu-satunya BUMN yang masuk radar pembubaran. Djakarta Lloyd dan Krakatau Steel juga mengalami masalah serupa. Menurut Dony, sebelum Danantara terbentuk, pengelolaan BUMN berjalan sendiri-sendiri tanpa mekanisme dukungan antarkorporasi. Kementerian BUMN selama ini hanya bertindak sebagai pemegang kuasa kelola, bukan pemilik langsung aset.
Dari Pabrik Telepon Era Soeharto hingga Kolaps
Sejarah PT INTI bermula pada 1966 lewat kerja sama antara PN Telekomunikasi dan Siemens AG. Kerja sama itu berkembang menjadi Pabrik Telepon dan Telegraf (PTT) di bawah Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pos dan Telekomunikasi (LPP Postel) pada 1968. Baru pada 30 Desember 1974, unit ini resmi menjadi perseroan yang berada di bawah Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi.
Era keemasan PT INTI terjadi pada 1985-1998. Saat itu, perusahaan ditunjuk sebagai pemasok tunggal Sentral Telepon Digital Indonesia (STDI) melalui kerja sama dengan Siemens AG. Pabrik STDI pertama dibangun di Bandung dengan kapasitas produksi 150 ribu Satuan Sambungan Telepon (SST). Produksi perdananya diluncurkan pada 1985 dengan kapasitas awal 10 ribu SST.
Bahkan ketika pemerintah membuka keran persaingan dengan menghadirkan AT&T dan NEC pada 1990, PT INTI masih mampu menguasai sekitar 60% pangsa pasar infrastruktur telekomunikasi nasional hingga 1998. Perusahaan ini juga menjadi pelopor digitalisasi jaringan telekomunikasi dan mendukung proyek otomatisasi telepon di berbagai wilayah bersama Telkom.
Bisnis Kini: Kabel Serat Optik hingga Smart Hospital
Memasuki era 2000-an, PT INTI mulai bergeser dari sekadar pabrikan perangkat telekomunikasi menjadi penyedia solusi teknologi dan integrator sistem. Perusahaan menjalin kerja sama dengan Motorola, Ericsson, Samsung, Alcatel, hingga Sagem.
Saat ini, lini bisnis PT INTI terbagi dalam tiga sektor utama. Di sektor manufaktur, mereka memproduksi kabel serat optik, perangkat energi pintar (smart energy devices), serta tabung LPG komposit. Di sektor integrator sistem, perusahaan mengerjakan proyek serat optik, Fiber to the Home (FTTH), penerangan jalan umum, hingga pembangkit listrik tenaga surya. Sementara di sektor digital, PT INTI mengembangkan Smart Hospital Management System, Internet of Things (IoT), Big Data Analytics, Cyber Defence, hingga Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Sayangnya, diversifikasi bisnis itu tak cukup menyelamatkan perusahaan dari jeratan utang dan tata kelola yang berantakan. Kini, masa depan PT INTI bergantung pada keputusan BP BUMN dan Danantara dalam program penataan korporasi negara. Jika benar dibubarkan, maka akan tamatlah riwayat salah satu BUMN tertua di sektor telekomunikasi Indonesia yang pernah menjadi kebanggaan di era industrialisasi BJ Habibie.