TOBA — Wakil Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Toba, Eston Sihotang, mengakui bahwa 27 dapur MBG yang saat ini beroperasi belum sepenuhnya memenuhi standar kelayakan higienis. Pengakuan itu disampaikan Eston pada Senin (25/5/2026).
Menurut Eston, kekurangan paling krusial ada pada sistem sanitasi dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). "Termasuk sanitasi dan IPAL, seperti pengolahan limbah dari sisa makanan, minyak, dan bahan lainnya agar tidak mencemari lingkungan," ujarnya.
Pembenahan Bertahap dan Sertifikasi Halal
Meski belum ideal, Eston memastikan dapur-dapur tersebut tetap beroperasi untuk menyuplai makanan bagi penerima manfaat. Pembenahan akan terus dilakukan mengacu pada arahan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pusat, Sony Sonjaya.
"Meskipun persyaratan tersebut belum terpenuhi secara maksimal karena masih membutuhkan waktu dan kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Toba serta Dinas Kesehatan Kabupaten Toba terkait standar kelayakannya, dapur tetap beroperasi," kata Eston.
Ia menambahkan, pembenahan yang dilakukan mencakup aspek sanitasi, IPAL, standar higienis, hingga sertifikasi halal. Proses ini membutuhkan koordinasi lintas dinas agar seluruh persyaratan bisa dipenuhi secara bertahap.
Satu Kecamatan Masih Tanpa Dapur MBG
Dari 16 kecamatan di Kabupaten Toba, sebanyak 15 kecamatan sudah memiliki dapur MBG. Hanya Kecamatan Tampahan yang belum memiliki fasilitas serupa.
Eston menjelaskan, kendala utama di Kecamatan Tampahan adalah jumlah penerima manfaat yang masih jauh di bawah standar. "Masih diupayakan agar Kecamatan Tampahan memiliki dapur MBG. Saat ini jumlah penerima manfaat masih di bawah standar 3.000 penerima, baru sekitar 700 jiwa. Semoga solusinya segera ditemukan agar pembangunan dapur bisa direalisasikan," tuturnya.
Dengan total 27 dapur yang tersebar di 15 kecamatan, Pemkab Toba terus berupaya memenuhi standar kelayakan sambil tetap menjalankan program MBG bagi masyarakat.