SUMATERA UTARA — Rencana perluasan sawah tersebut dipicu oleh usulan dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Amran mengatakan, masyarakat di daerah perbatasan itu mulai melihat potensi besar pengembangan pertanian setelah program cetak sawah sebelumnya berjalan.
"Bahkan tadi ada dari Boven Digul, di dekat perbatasan dari Papua Selatan meminta khusus, 'Pak Menteri aku mau tambah 30 hektare lagi'. Karena petani-petani sudah melihat di sana," ujar Amran dalam keterangan resmi, Jumat (12/6).
Tak hanya padi, Gubernur Papua Selatan juga meminta tambahan bantuan benih jagung untuk diversifikasi pangan. Amran memastikan 90 persen usulan kepala daerah langsung dipenuhi, termasuk kebutuhan kopi, pala, dan kakao jika progres pertanian menunjukkan hasil positif.
Ratusan Traktor Dikirim, Target Tiga Pekgu Tiba
Untuk mendukung pengolahan lahan baru, Kementerian Pertanian akan mengirimkan ratusan unit traktor ke Papua dalam waktu dekat. Amran menargetkan alat mesin pertanian (alsintan) itu tiba dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
"InsyaAllah minggu ini kita kirim, mudah-mudahan dalam perjalanan 2 minggu, 3 minggu sudah tiba di sana. Traktornya ratusan totalnya," tuturnya.
Menurut Amran, pengelolaan lahan seluas puluhan ribu hektare tidak mungkin efektif jika masih mengandalkan cara manual. "Setiap kita cetak sawah, langsung diikuti dengan teknologi. Kalau manual, pasti sawahnya tidak dikerjakan," tegasnya.
Dampak Langsung bagi Petani Papua
Program ini menyasar petani lokal yang selama ini kesulitan mengakses lahan dan alat produksi. Dengan tambahan 30.000 hektare sawah dan dukungan traktor modern, diharapkan produktivitas padi dan jagung di Papua bisa meningkat signifikan.
Amran menambahkan, jika perkembangan sektor pertanian di Papua bagus, seluruh permintaan tambahan dari daerah akan dipenuhi 100 persen. "Termasuk kopi, pala, kakao, dan seterusnya. Sekarang, tadi kami sudah minta dirjen, permintaan tambahan hari ini dipenuhi, dilaksanakan secepat-cepatnya," katanya.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat lumbung pangan di luar Jawa, seiring meningkatnya kebutuhan pangan nasional dan tekanan perubahan iklim.