MEDAN — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Utara pada penetapan Rabu (25/6/2025) terkoreksi ke level Rp3.781,09 per kilogram. Angka ini menunjukkan penurunan tipis dari harga pekan sebelumnya yang sempat bertahan di kisaran Rp3.800 per kg.
Penurunan harga TBS ini dirasakan langsung oleh petani swadaya di tiga kabupaten penghasil utama sawit di Sumut, yakni Labuhanbatu, Asahan, dan Simalungun. Di ketiga daerah tersebut, harga di tingkat petani bahkan lebih rendah dari harga acuan provinsi karena faktor kualitas buah dan jarak tempuh ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Turun Tipis, Tapi Potensi Pengaruhi Pendapatan Pekebun
Koreksi harga TBS sawit ini menjadi perhatian para pekebun yang tengah memasuki masa panen raya di beberapa wilayah. Meskipun penurunannya tidak signifikan, fluktuasi harga di tengah biaya produksi yang cenderung tetap membuat margin keuntungan petani semakin tipis.
Data Dinas Perkebunan Sumut menunjukkan bahwa harga TBS untuk penjualan periode 24-30 Juni 2025 ini ditetapkan berdasarkan rata-rata harga minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit (kernel) di pasar global. Faktor lain yang mempengaruhi adalah rendemen minyak yang dihasilkan dari buah sawit yang masuk ke pabrik.
Harga di Tingkat Petani Bisa Berbeda
Petani di tingkat lapangan tidak serta merta menerima angka Rp3.781,09 per kg. Harga tersebut merupakan harga acuan untuk TBS dengan kriteria tertentu, seperti umur panen 20 hari dan kadar minyak sesuai standar pabrik. Jika kualitas buah di bawah standar, harga bisa terpotong hingga Rp200-Rp300 per kg.
Seorang pekebun di Kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu, mengaku harga jual di tempatnya hanya mencapai Rp3.550 per kg. "Sudah biasa di sini harganya beda sama yang di Medan. Ongkos angkut juga besar," ujarnya.
Apa yang Mempengaruhi Harga TBS Sawit Sumut?
Fluktuasi harga TBS sawit di Sumatera Utara sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga CPO dunia. Ketika harga CPO di bursa Malaysia melemah, Dinas Perkebunan Sumut bersama tim penetapan harga akan menyesuaikan harga TBS setiap pekan. Selain itu, kebijakan pemerintah pusat terkait pajak ekspor dan biodiesel juga ikut mempengaruhi pasar.
Untuk pekan ini, selain faktor global, peningkatan produksi buah sawit di beberapa daerah juga menjadi tekanan harga. Musim panen yang bertepatan dengan peningkatan pasokan membuat pabrik lebih selektif dalam menerima buah.