Pencarian

Guru Besar Teknik USU Ungkap Syarat Krusial B50 Agar Aman untuk Mesin Diesel, Tak Cuma soal Penghematan Devisa

Kamis, 09 Juli 2026 • 00:08:01 WIB
Guru Besar Teknik USU Ungkap Syarat Krusial B50 Agar Aman untuk Mesin Diesel, Tak Cuma soal Penghematan Devisa
Prof Tulus Burhanuddin menekankan pentingnya kontrol mutu dalam penerapan bahan bakar B50 untuk mesin diesel.

MEDAN — Pemerintah memproyeksikan penghematan devisa sebesar Rp 157,28 triliun dari penerapan B50, bahan bakar nabati campuran 50 persen minyak kelapa sawit dan 50 persen solar fosil. Kebijakan ini disebut juga mampu menekan emisi karbon hingga 46,72 juta ton CO2 dan menyerap 2,2 juta tenaga kerja di sepanjang rantai pasok sawit dan energi.

Uji Teknis B50: 80-90 Persen Parameter Baik, Tapi Ada Catatan

Uji coba B50 telah dilakukan di enam sektor utama: otomotif, alat berat pertambangan, alat pertanian, perkapalan, genset atau pembangkit listrik, dan perkeretaapian. Hasilnya, sekitar 80 hingga 90 persen parameter uji menunjukkan hasil baik.

Pada alat berat yang telah beroperasi 900 hingga 1.000 jam, belum ditemukan gangguan signifikan. Namun, Guru Besar Teknik Mesin Fakultas Teknik USU, Prof Tulus Burhanuddin Sitorus, menegaskan hasil positif ini belum menjadi jaminan mutlak untuk semua jenis mesin dan kondisi operasi di lapangan.

Kontrol Mutu dan Pemantauan Teknis Jadi Kunci

"B50 layak diterapkan, tetapi harus dikawal melalui kontrol mutu dan pemantauan teknis yang ketat," ujar Prof Tulus dalam keterangan yang diterima, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, transisi dari B20, B30, B40, lalu ke B50 bukan sekadar soal menaikkan porsi campuran. Target utamanya adalah membangun kemandirian energi, mengurangi ketergantungan pada solar impor, dan memaksimalkan sumber daya domestik. Namun, tanpa pengawasan kualitas yang konsisten, risiko kerusakan mesin tetap mengintai, terutama pada kendaraan dan genset yang sudah berusia tua.

Apa yang Perlu Diperhatikan Pemilik Kendaraan Diesel?

Prof Tulus menekankan bahwa pengguna kendaraan diesel dan pemilik genset perlu waspada terhadap perubahan karakteristik bahan bakar. Sifat FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang higroskopis dan lebih kental dari solar fosil bisa memicu endapan di injektor dan filter bahan bakar jika mutu produksi tidak dijaga.

Pemerintah sendiri menargetkan implementasi B50 serentak mulai Juli 2026. Artinya, dalam waktu dekat, setiap pengguna solar di Indonesia akan otomatis beralih ke campuran ini tanpa pengecualian. Pertanyaannya, apakah kesiapan teknis di tingkat hilir sudah sebanding dengan optimisme di tingkat hulu?

Bagikan
Sumber: sinata.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks