Sebanyak 4.359 mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 di Medan, Selasa. Rektor UINSU Prof. Nurhayati menegaskan masuk perguruan tinggi berarti naik tingkat tanggung jawab sebagai insan terdidik, bukan sekadar perpindahan jenjang pendidikan.
MEDAN — Ribuan mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) resmi memulai kehidupan kampus melalui kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 yang digelar Selasa ini. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada lingkungan kampus, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai akademik dan tanggung jawab sosial sebagai insan terdidik.
Mengusung tema "Membentuk Generasi Unggul dalam Ilmu, Teduh dalam Keberagaman, dan Rahmat bagi Semesta", PBAK tahun ini menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk memahami peran baru mereka di dunia akademik.
Unggul dalam Ilmu: Menjadi Pembelajar Aktif, Bukan Pasif
Rektor UINSU Prof. Nurhayati mengingatkan bahwa keunggulan intelektual menjadi modal pertama yang harus dibangun mahasiswa. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi akses informasi, melainkan kemampuan membedakan informasi dengan pengetahuan, pengetahuan dengan kebenaran, serta kecerdasan dengan kebijaksanaan.
"Jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah merasa cukup hanya karena telah lulus dari sekolah menengah. Justru ketika menjadi mahasiswa, perjalanan intelektual saudara baru dimulai," ujar Nurhayati di hadapan mahasiswa baru.
Ia menegaskan bahwa ilmu tidak boleh diterima secara pasif. Mahasiswa dituntut aktif mencari, mempertanyakan, menguji, mengembangkan, hingga mengamalkan ilmu yang diperoleh. "Kampus yang hebat tidak hanya melahirkan mahasiswa yang pintar, tetapi melahirkan manusia yang mampu menggunakan kepintarannya untuk kebaikan," katanya.
Teduh dalam Keberagaman: Perbedaan Bukan Ancaman
Di tengah keberagaman latar belakang mahasiswa baru yang berasal dari berbagai daerah, Nurhayati menekankan pentingnya sikap teduh dalam pergaulan. Kampus disebutnya sebagai miniatur kehidupan masyarakat yang menghadirkan perbedaan budaya, pemikiran, dan cara pandang.
"Perbedaan itu bukan ancaman. Perbedaan adalah kekayaan. Kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh," tegasnya.
Mengutip Al-Qur'an, "Waja‘alnakum syu‘ban wa qab’ila lita‘rafu", ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Mahasiswa diminta menjadi penjaga ruang publik yang sehat, bukan penyebar kebencian atau informasi yang belum tentu benar.
"Jangan mudah membenci hanya karena berbeda. Jangan mudah menghakimi hanya karena tidak sepemikiran. Mampu berbeda pendapat tanpa bermusuhan, mampu berdialog tanpa saling merendahkan," pesannya.
PBAK Bukan Sekadar Pengenalan Kampus
Nurhayati menegaskan bahwa PBAK tidak boleh dimaknai sekadar kegiatan seremonial pengenalan lingkungan. Kegiatan ini menjadi langkah awal mahasiswa memahami tanggung jawab baru setelah memasuki perguruan tinggi.
"Saudara tidak sekadar memasuki sebuah kampus. Saudara sedang memasuki fase penting dalam perjalanan kehidupan, sebuah fase untuk membentuk cara berpikir, karakter, kepribadian, kepemimpinan, dan masa depan," ujarnya.
Tema yang diusung pada PBAK tahun ini, menurut Nurhayati, bukan sekadar slogan kosong melainkan cita-cita yang ingin ditanamkan kepada seluruh mahasiswa baru UINSU. Generasi yang diharapkan lahir dari kampus ini adalah generasi yang unggul secara intelektual, teduh dalam bersikap, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.