SUMATERA UTARA — Letusan Gunung Anak Krakatau pada September 2026 tidak hanya menyebarkan abu di sekitar Selat Sunda, tetapi juga mengganggu aktivitas warga di dua provinsi. Sekolah di Jakarta dan Lampung terpaksa menghentikan pembelajaran tatap muka, sementara sejumlah bandara melaporkan gangguan dan pembatalan penerbangan. Warga diminta memakai masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Peristiwa ini terjadi hanya delapan tahun setelah sebagian tubuh gunung runtuh pada 22 Desember 2018, memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 400 orang di pesisir Selat Sunda. Kini, ancaman tidak datang dalam bentuk gelombang laut, melainkan partikel abu yang menyebar hingga ke pusat pemerintahan.
Ancaman yang Telah Diketahui Sejak 1927
Anak Krakatau bukan gunung yang baru aktif. Ia muncul dari kaldera hasil letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883 yang menewaskan lebih dari 36.000 orang dan menghancurkan kawasan pesisir Banten dan Lampung. Sejak akhir 1927, gunung ini tercatat mengalami lebih dari 40 episode erupsi, termasuk semburan abu, lontaran material, dan aliran lava.
Sejarah mencatat letusan 1883 sebagai salah satu bencana vulkanik terbesar dunia. Namun, semakin jauh jarak waktu, tragedi itu berubah menjadi sekadar angka statistik. Pola yang sama kini berulang: bencana datang, perhatian menguat, lalu meredup ketika keadaan membaik.
Kegagalan Sistem Peringatan Dini 2018
Tsunami Selat Sunda 2018 menjadi kasus penting karena tidak dipicu gempa tektonik besar yang umumnya menjadi tanda awal peringatan dini. Sistem peringatan tsunami Indonesia saat itu masih berfokus pada gempa tektonik, sehingga tidak memberikan peringatan untuk tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik. Pelajaran mahal ini belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tentang kesiapan menghadapi skenario serupa di masa depan.
Ketika letusan hanya terlihat sebagai kepulan asap di tengah laut, ia terasa jauh. Begitu penerbangan batal dan sekolah ditutup, bencana masuk ke rumah. Ukuran kedekatan manusia dengan bencana tidak ditentukan kilometer, melainkan seberapa jauh rutinitas terganggu.
Daftar Panjang Bencana yang Terlupakan
Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi bencana: Aceh 2004, Yogyakarta 2006, Merapi 2010, Palu 2018, Selat Sunda 2018, dan Cianjur 2022. Banjir, longsor, gempa, tsunami, kebakaran hutan, dan erupsi datang berulang dengan nama tempat berbeda. Istilah cincin api diajarkan sejak bangku sekolah, tetapi pengetahuan tidak selalu berarti kesiapan.
Ketika air surut, banjir menjadi masa lalu. Ketika hujan turun, kebakaran hutan hilang dari percakapan. Ketika langit kembali biru, asap terasa seperti cerita kemarin. Ketika gunung tenang, ancamannya ikut menghilang dari ingatan kolektif.
Gunung Anak Krakatau bekerja dengan ukuran waktu berbeda. Ia tumbuh, erupsi berkali-kali, sebagian tubuhnya runtuh pada 2018, lalu aktif kembali. Sementara itu, umur perhatian manusia sering hanya sepanjang satu siklus berita. Hari ini mencari arah sebaran abu, besok bandara kembali beroperasi, anak-anak masuk sekolah, dan masker kembali ke laci.
Pola ini yang membuat pertanyaan dalam lagu Ebiet G. Ade tentang bencana di tanah air tetap relevan hingga kini. Bukan karena alam mengulang cerita yang sama, tetapi karena manusia mengulang cara yang sama dalam mengingatnya. Banjir akan surut, api akan padam, dan abu akan hilang dari udara. Pertanyaan sebenarnya adalah berapa lama ingatan itu bertahan sebelum bencana berikutnya datang mengetuk pintu rumah.