MEDAN — Bukan hanya penyakit fisik yang terdeteksi lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Sumatera Utara. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumut mengungkapkan, dari sekitar 2,8 juta masyarakat yang telah mengikuti skrining, ditemukan indikasi orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) yang mengalami gejala kecemasan dan stres.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi Sumut Hery Valona Bonatua Ambarita mengatakan, temuan ini menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental merupakan tantangan serius. “Tidak hanya mendeteksi penyakit fisik, tetapi juga identifikasi indikasi gangguan jiwa warga sejak dini,” katanya dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Jumat.
Remaja Paling Terdampak, Beban Sekolah Jadi Pemicu
Hasil skrining menunjukkan kelompok remaja menjadi yang paling banyak terindikasi mengalami kecemasan dan stres di Sumatera Utara. Faktor utamanya adalah beban tugas sekolah yang tinggi. Sementara itu, orang dewasa juga banyak mengalami tekanan akibat persoalan ekonomi, seperti kebutuhan biaya pendidikan dan tuntutan hidup.
“Saat skrining kesehatan, kita temukan masyarakat mengalami cemas dan stres, namun masih dalam tahap rentang awal. Semua orang bisa mengalami hal ini, tapi harus dikendalikan agar tidak menjadi gangguan jiwa berat,” ujar Hery.
Skrining Baru Capai 67 Persen, Target 22 Ribu Orang
Dinkes Sumut menargetkan skrining kesehatan jiwa bagi 22 ribu orang pada tahun ini. Hingga saat ini, capaiannya baru mencapai 13 ribu lebih atau sekitar 67 persen. “Kami yakin pada Desember nanti kita dapat mencapai target,” kata Hery.
Ia menjelaskan, dari setiap 10 orang yang diskrining, ditemukan satu hingga dua orang ODMK. Kementerian Kesehatan RI memperkirakan sekitar 1,2 persen atau 28 juta masyarakat Indonesia mengalami gejala kecemasan dan stres yang berpotensi menjadi masalah kejiwaan jika tidak ditangani.
Dua Pendekatan Pemerintah Tangani Kesehatan Mental
Pemerintah menjalankan dua pendekatan untuk menangani persoalan ini. Pertama, melakukan deteksi dan penanganan dini terhadap ODMK agar tidak berkembang menjadi gangguan jiwa berat. Kedua, memberikan pelayanan komprehensif bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang membutuhkan penanganan dokter spesialis jiwa, terapi intensif hingga perawatan di rumah sakit.
“Kondisi ini masih situasional, makanya harus dikendalikan dengan meningkatkan pertahanan diri juga edukasi dan terapi,” kata Hery. Program CKG di Sumut menjadi salah satu pintu masuk untuk mendeteksi masalah kejiwaan sejak dini, terutama di kalangan remaja yang rentan terhadap tekanan akademik dan sosial.