TAPANULI TENGAH — Debit Sungai Aek Sigala-gala melonjak drastis setelah hujan dengan intensitas sangat lebat mengguyur wilayah itu sejak pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Air kemudian meluap melewati tanggul setinggi sekitar empat meter, menggerus badan tanggul hingga akhirnya jebol dan merendam rumah-rumah warga.
Genangan mencapai ketinggian 50 hingga 150 sentimeter di sejumlah titik permukiman. Selain merendam rumah, banjir juga merusak oprit Jembatan Sigala-gala sehingga akses menuju jembatan tersebut putus total.
Oprit Jembatan Rusak, Alat Berat Sempat Terhambat
Kerusakan pada oprit jembatan sempat menghambat mobilisasi alat berat ke lokasi tanggul yang jebol. Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air mengerahkan dua unit alat berat untuk memperbaiki oprit tersebut agar kendaraan berat bisa melintas.
“Prioritas utama adalah memulihkan akses masyarakat, memperbaiki tanggul yang jebol, dan memastikan aliran sungai kembali lancar sehingga risiko banjir susulan dapat ditekan,” ujar Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).
Penutupan Tanggul dan Normalisasi Sungai
Setelah akses terbuka, pekerjaan penutupan tanggul yang jebol langsung dilakukan pada malam hari. Kementerian PU juga mengerahkan empat unit alat berat untuk mengangkat sedimen di Sungai Aek Sigala-gala. Langkah ini bertujuan meningkatkan kapasitas aliran sungai dan mengurangi potensi luapan saat hujan deras kembali turun.
Hingga Sabtu malam, banjir mulai berangsur surut. Genangan tersisa sekitar 20 sentimeter dan terus mengalir menuju Sungai Tukka. Hujan di lokasi masih turun dengan intensitas ringan saat tim di lapangan terus memantau perkembangan.
Pemerintah Pusat dan Daerah Berkoordinasi Tangani Darurat
Pemerintah menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar penanganan darurat dapat segera dituntaskan. Seluruh sumber daya yang dimiliki kementerian dikerahkan untuk menekan dampak bencana terhadap masyarakat.