SUMATERA UTARA — Puluhan peserta mancanegara membawa perlengkapan hingga puluhan kilogram demi tampil di Garut International Kite Festival 2026. Tim Italia, misalnya, datang dengan tiga anggota dan total peralatan mencapai 60 kilogram—sekitar 20 kilogram per orang. Mereka harus beradaptasi dengan kondisi angin yang tidak selalu stabil di lokasi, termasuk beralih ke jenis layang-layang yang lebih ringan.
Kegiatan yang digelar Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPC Kabupaten Garut ini menjadi penutup rangkaian festival yang mempertemukan pegiat layang-layang dari Indonesia dan sejumlah negara. Meski cuaca menjadi tantangan, antusiasme peserta dan warga lokal tetap tinggi.
Keramahan Warga Jadi Kesan Utama Peserta Mancanegara
Massimo Dall’Aglio dari Italia mengaku pengalaman paling berkesan bukan hanya soal menerbangkan layang-layang raksasa. Ia justru terkesan dengan sambutan hangat warga Garut, terutama antusiasme anak-anak di sekitar lokasi festival. Keramahan ini menjadi nilai tambah yang tidak bisa dibeli dengan tiket masuk.
“Ini sebuah karya kita semua. Banyak sekali pihak yang terlibat, mulai dari masyarakat. Alhamdulillah masyarakat kami dari desa bisa menyelenggarakan event kelas dunia,” ujar Kepala Desa Kramatwangi, Rana Kurnia.
Evaluasi Angin dan Rencana Pengembangan Event ke Depan
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak yang berkontribusi dalam festival ini. Namun ia tidak menampik masih ada sejumlah aspek yang perlu dievaluasi, terutama pemilihan lokasi yang memiliki kondisi angin lebih mendukung agar pertunjukan layang-layang bisa lebih optimal.
“Merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi saya bisa hadir di sini mewakili Pemerintah Kabupaten Garut. Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak. Alhamdulillah kegiatan Festival Internasional Layang-layang Kabupaten Garut berlangsung dengan sukses,” ujarnya.
Pemkab Garut berkomitmen mendorong kegiatan yang memadukan unsur budaya dan pariwisata karena berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Ke depan, pengembangan event wisata tidak hanya terpusat di satu kawasan. Berbagai destinasi di Kabupaten Garut dinilai punya peluang untuk dikembangkan menjadi lokasi festival berskala lebih luas.
Dampak Ekonomi dan Promosi Desa Lewat Event Kelas Dunia
Bagi Desa Kramatwangi, kepercayaan menjadi tuan rumah event internasional adalah kebanggaan tersendiri. Rana Kurnia melihat festival ini sebagai kesempatan memperkenalkan kehidupan masyarakat dan potensi kawasan pedesaan Garut kepada pengunjung dari luar daerah maupun mancanegara.
“Kami sangat concern terhadap kegiatan-kegiatan festival budaya yang mendorong pertumbuhan bidang pariwisata. Saya harap ke depan juga ada kegiatan-kegiatan yang kita dorong bersama,” tambah Bupati.
Bagi traveler yang ingin menyaksikan festival serupa tahun depan, disarankan memantau informasi resmi dari PHRI BPC Kabupaten Garut atau Dinas Pariwisata setempat. Lokasi festival yang berada di kawasan Tarogong Kaler dapat dijangkau sekitar 15 menit dari pusat Kota Garut. Untuk informasi terkini soal jadwal dan lokasi pasti, konfirmasi langsung ke penyelenggara sangat disarankan.
Garut International Kite Festival 2026 membuktikan bahwa event budaya bisa menjadi jembatan promosi daerah. Dengan semangat “Garut Menjangkau Dunia”, festival ini menjadi langkah nyata memperluas jejaring promosi—sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal.