IHSG Anjlok 2,06 Persen ke 6.584, Rupiah Tembus Rp 17.630 Per Dolar AS, Bursa Asia Ikut Merah

Penulis: Hendrizal Satria  •  Senin, 18 Mei 2026 | 10:17:01 WIB
IHSG turun 2,06 persen ke posisi 6.584 pada perdagangan Senin, 18 Mei 2024.

JAKARTA — Tekanan di pasar keuangan Indonesia kembali terasa pada perdagangan Senin (18/5). IHSG langsung jatuh ke zona merah sejak sesi pertama, setelah pada masa preopening sebenarnya sudah turun 1,40 persen ke posisi 6.628,976. Kondisi ini mengindikasikan sentimen negatif sudah menguat sejak awal perdagangan.

Rupiah Terus Tertekan, Sentuh Level Psikologis Baru

Di pasar valuta asing, rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, kurs rupiah terhadap dolar AS melemah 33 poin atau 0,19 persen ke angka Rp 17.630. Level ini mendekati titik terlemah dalam beberapa waktu terakhir, menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas nilai tukar.

Pelemahan rupiah yang berkelanjutan biasanya berdampak langsung pada harga barang impor dan dapat memicu tekanan inflasi. Bagi investor asing, depresiasi mata uang lokal juga menjadi sinyal risiko yang membuat mereka cenderung menarik dana dari pasar saham.

Bursa Asia Ikut Terkoreksi, China Jadi Satu-satunya yang Hijau

Tekanan jual tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah bursa utama Asia pagi ini juga kompak bergerak di zona merah. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 1,02 persen, Hang Seng di Hong Kong melemah 1,06 persen, dan Straits Times di Singapura terkoreksi 0,32 persen. Satu-satunya yang masih bertahan di area positif adalah indeks SSE Composite di China yang naik tipis 0,06 persen.

Koreksi serentak ini menunjukkan adanya sentimen global yang mempengaruhi pasar secara luas. Pelaku pasar saat ini tengah mencermati data ekonomi AS dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika yang kerap menjadi pemicu pergerakan dolar dan arus modal di negara berkembang.

Apa Arti Pelemahan Ini bagi Investor Ritel?

Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi ini berarti nilai portofolio saham mereka ikut tergerus dalam jangka pendek. Namun, pelemahan rupiah juga membuat harga saham di pasar modal menjadi lebih murah dalam hitungan dolar, yang kadang dimanfaatkan investor asing untuk akumulasi beli jika fundamentalnya masih kuat.

Yang perlu dicermati ke depan adalah respons Bank Indonesia dan pemerintah. Intervensi di pasar valas serta kebijakan moneter yang akomodatif biasanya menjadi jurus andalan untuk menahan laju pelemahan rupiah dan menjaga kepercayaan pasar.

Mengapa IHSG Rentan terhadap Pergerakan Rupiah?

Hubungan antara IHSG dan nilai tukar rupiah cukup erat. Ketika rupiah melemah, investor asing cenderung merealisasikan keuntungan dan memindahkan dananya ke luar negeri. Aksi jual ini langsung menekan indeks saham. Sebaliknya, saat rupiah stabil, aliran modal asing biasanya kembali masuk dan mendorong IHSG naik.

Data terkini menunjukkan tekanan masih berlangsung, setidaknya hingga ada katalis positif baru dari dalam negeri atau perubahan arah kebijakan global.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: kumparan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top