MEDAN — Sebanyak 270 siswa memulai hari pertama mereka di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Medan, Jumat (17/7/2026). Mereka mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang menandai dimulainya tahun ajaran baru di kompleks pendidikan yang baru diresmikan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tersebut.
Rincian peserta MPLS terdiri dari 60 siswa sekolah dasar, 90 siswa sekolah menengah pertama, dan 120 siswa sekolah menengah atas. Seluruhnya akan menempati bangunan sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 6,01 hektare di Kecamatan Medan Tuntungan, Sumatera Utara.
Anggaran Rp258 Miliar untuk Sekolah dan Asrama
Kementerian PU mengucurkan dana APBN tahun anggaran 2025–2026 sebesar Rp258 miliar untuk membangun kawasan pendidikan terpadu ini. Proyek dikerjakan dalam 200 hari kalender dan menyerap sekitar 900 tenaga kerja.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pembangunan ini adalah wujud komitmen pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. "Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Kementerian PU ingin memastikan fasilitas pendidikan ini dibangun secara cepat dan berkualitas," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Fasilitas Lengkap: dari Laboratorium hingga Lapangan Mini Soccer
Kompleks SRT 2 Medan dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu dengan kapasitas total 1.080 siswa dari jenjang SD hingga SMA. Selain ruang belajar, sekolah ini dilengkapi asrama, laboratorium, rumah susun guru, gedung serbaguna, dan masjid.
Fasilitas pendukung lainnya mencakup kantin, dapur, instalasi air bersih, sistem CCTV, serta lapangan mini soccer dan basket. Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana Lastiar Pasaribu memastikan seluruh bangunan siap digunakan.
"Di SR permanen ini kesiapan bangunan sudah baik. Setelah MPLS, para guru telah menyiapkan modul dan media interaktif yang dapat meningkatkan kemampuan anak mengikuti pembelajaran matrikulasi nantinya," kata Lastiar.
Pemerataan Akses Pendidikan di Sumatera Utara
Kehadiran SRT 2 Medan menjawab kebutuhan fasilitas pendidikan layak di kawasan Medan Tuntungan dan sekitarnya. Sekolah ini menjadi salah satu proyek percontohan Sekolah Rakyat Terintegrasi yang digagas pemerintah untuk mendorong pemerataan akses pendidikan, khususnya bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Dengan sistem terintegrasi dan fasilitas asrama, siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan formal tetapi juga pembinaan karakter selama tinggal di lingkungan sekolah. Pemerintah menargetkan model serupa dapat direplikasi di daerah lain guna mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional.