SUMATERA UTARA — Fenomena ini terlihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini berani mengalokasikan anggaran khusus untuk aktivitas fisik. Linda, seorang pegawai swasta, mengaku mengeluarkan dana hingga Rp4 juta setiap bulan hanya untuk biaya pelatihan. Anggaran tersebut mencakup coaching lari, membership gym, dan les tenis yang dijalaninya secara rutin.
Biaya Kompetisi Jadi Porsi Terbesar Pengeluaran Atlet Amatir
Berbeda dengan Linda, Seira yang berprofesi sebagai coach gym justru mengaku pengeluaran terbesarnya jatuh pada tiket kompetisi. Ia merogoh kocek sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta untuk mengikuti ajang Hyrox nomor women double. "Alasannya waktu itu diajakin sama client aku buat experience women double Hyrox. Persiapannya rutinin lari 5K setiap minggu," ujarnya.
Menariknya, Seira mengaku tidak mengeluarkan biaya tambahan untuk peralatan latihan karena fasilitas gym tempatnya bekerja dapat dimanfaatkan secara gratis. Namun, ia tetap harus menyisihkan waktu khusus setiap pekan untuk latihan lari 5 kilometer demi memenuhi standar fisik kompetisi.
Ekosistem Ekonomi Baru dari Tren Kebugaran
Pergeseran perilaku ini menciptakan peluang bisnis yang signifikan bagi penyedia jasa olahraga. Industri pelatihan pribadi, penyelenggara event lari, serta produsen perlengkapan olahraga premium diprediksi menjadi segmen yang paling diuntungkan. Biaya pendaftaran lomba lari yang sebelumnya berkisar ratusan ribu rupiah kini merangkak naik seiring meningkatnya kualitas pengalaman yang ditawarkan.
Fenomena ini juga menarik minat investor ritel yang melihat potensi pertumbuhan pada emiten-emiten di sektor konsumer dan properti yang terkait dengan fasilitas olahraga. Kenaikan permintaan terhadap lapangan padel dan tenis di kota-kota besar menjadi indikator awal bergesernya preferensi konsumen dari sekadar membeli barang ke pengalaman (experience economy).
Dampak Berganda bagi Pelaku Usaha Lokal
Dampak ekonomi dari tren ini tidak hanya dirasakan oleh pemain besar, tetapi juga pelaku usaha mikro. Kebutuhan akan asupan nutrisi, pakaian olahraga, hingga transportasi menuju lokasi latihan turut mendongkrak pendapatan sektor-sektor penunjang. Para pelaku bisnis yang bergerak cepat menyesuaikan produk dengan kebutuhan komunitas olahraga ini diprediksi mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan lebih baik di tengah tekanan daya beli.
Meski demikian, para pelaku industri tetap perlu mencermati potensi normalisasi permintaan. Tren gaya hidup aktif yang didorong efek komunitas bisa mengalami koreksi jika kondisi ekonomi memburuk dan konsumen mulai memprioritaskan pengeluaran kebutuhan pokok.