ASAHAN — Rombongan pemkab datang ke pesantren bukan untuk seremoni, melainkan melihat langsung bagaimana sampah dapur yang biasanya dibuang kini punya nilai jual. Rianto menyaksikan proses budidaya maggot yang dikelola mahasiswa KKN UGM di lingkungan Pesantren Darul Falah, Aek Songsongan.
Inovasi ini menjawab dua persoalan sekaligus: menekan volume limbah organik dan menekan biaya pakan ternak. Maggot yang dihasilkan dari fermentasi sisa makanan dijadikan pakan alternatif untuk bebek milik warga sekitar pesantren.
Dari Limbah Dapur Menjadi Pakan Bernilai Ekonomi
Salah satu mahasiswa, Ghazalah Anwar, menjelaskan prosesnya sederhana namun terukur. Sisa nasi, sayur, dan lauk dari dapur pesantren dikumpulkan, kemudian dijadikan media tumbuh larva lalat black soldier fly (BSF) atau maggot.
“Melalui pengelolaan ini, sisa makanan tidak hanya menjadi limbah, tetapi dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Konsep tersebut diharapkan dapat dikembangkan masyarakat setelah KKN berakhir,” kata Anwar.
Ia menambahkan, maggot yang dipanen bisa langsung diberikan ke ternak dalam kondisi segar atau dikeringkan untuk disimpan. Cara ini dinilai lebih murah dibanding pakan pabrikan yang harganya terus fluktuatif.
Apresiasi Pemkab Asahan dan Peran PT Inalum
Rianto mengapresiasi langkah mahasiswa yang dianggap memberikan solusi berkelanjutan bagi masyarakat. Ia juga menyoroti peran PT Inalum yang memfasilitasi kehadiran KKN UGM di Kabupaten Asahan.
“Inovasi ini menjadi contoh kolaborasi antara dunia pendidikan dengan masyarakat. Kami apresiasi apa yang dilakukan mahasiswa. Sisa makanan yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat dikelola menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini merupakan inovasi yang sederhana, tetapi memiliki nilai manfaat yang besar apabila dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Rianto.
Wabup berharap ilmu yang ditularkan mahasiswa tidak berhenti saat masa KKN usai. Ia meminta warga pesantren dan masyarakat sekitar aktif meneruskan budidaya maggot secara mandiri.
“Ilmu dan inovasi yang dibawa adik-adik mahasiswa dapat terus dimanfaatkan masyarakat. Sehingga kehadiran KKN UGM tidak hanya meninggalkan program, tetapi juga meninggalkan pengetahuan dan manfaat yang dapat terus dikembangkan,” kata Rianto.
Potensi Dikembangkan ke Rumah Makan dan Pasar Tradisional
Ke depan, model pengolahan limbah ini dinilai bisa direplikasi di tempat lain yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar, seperti rumah makan, pasar tradisional, hingga permukiman padat penduduk.
Keberadaan maggot tidak hanya menjadi solusi pakan ternak, tetapi juga membuka peluang usaha sampingan bagi warga. Produk maggot kering memiliki pasar tersendiri, baik untuk pakan unggas maupun ikan.
Program KKN UGM di Asahan ini menjadi salah satu contoh pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung kebutuhan dasar warga. Kolaborasi antara kampus, industri melalui PT Inalum, dan pemerintah daerah menjadi model yang bisa ditiru daerah lain di Sumatera Utara.