MEDAN — Perasaan Matthew Baker bukan sekadar kebanggaan biasa. Baginya, berlaga di Sumatera Utara memiliki dimensi personal yang dalam. Sang ibu, Nita Baker, merupakan keturunan Batak bermarga Sitorus, menjadikan turnamen ini sebagai momen pulang ke kampung halaman secara emosional.
"Tidak ada yang lebih baik daripada bermain di kandang sendiri," kata Baker melalui media sosial resminya yang dipantau di Jakarta, Senin.
Dua Laga Penting dan Perjalanan Panjang dari Tim Senior
Baker tercatat tampil dalam dua pertandingan krusial Garuda Muda. Ia bermain di babak semifinal yang berakhir dengan kekalahan 0-1 dari Australia, serta pada laga perebutan tempat ketiga yang dimenangkan Indonesia atas Kamboja dengan skor 1-0.
Pemain berdarah campuran Australia-Indonesia itu harus melewatkan sejumlah laga fase penyisihan. Penyebabnya, ia dipanggil memperkuat timnas senior dalam dua pertandingan FIFA Matchday di Jakarta melawan Oman dan Mozambik.
Di level senior, Baker dipercaya pelatih John Herdman untuk masuk sebagai pemain pengganti. Ia turut membantu Indonesia mengakhiri penantian panjang 38 tahun untuk mengalahkan Oman, sekaligus mencatatkan diri sebagai salah satu pemain termuda yang pernah membela timnas senior Indonesia.
Peringkat Ketiga dan Kedekatan dengan Sumatera Utara
Usai agenda bersama tim senior, Baker kembali bergabung ke Sumatera Utara untuk melanjutkan perjuangan bersama rekan-rekannya di timnas U-19. Tim asuhan pelatih Nova Arianto akhirnya menutup turnamen dengan menghuni peringkat ketiga.
Bagi Baker, Piala AFF U-19 kali ini menjadi pengalaman keduanya bermain di Sumatera Utara. Sebelumnya, ia juga tampil sebagai salah satu pemain kunci Timnas Indonesia U-17 pada ajang Piala Kemerdekaan 2025.
"Terima kasih sekali lagi, Medan," katanya menutup pernyataan.