SUMATERA UTARA — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk penjualan wholesales Mei 2026 menunjukkan pergeseran signifikan di segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Alih-alih didominasi pabrikan premium Eropa dan Jepang, pucuk klasemen kini dikuasai oleh merek-merek asal China yang agresif memasarkan model baru dengan harga lebih terjangkau.
Duo Chery Puncaki Klasemen dengan Selisih Jauh
Chery Tiggo 8 CSH memimpin dengan angka distribusi 1.190 unit, unggul telak dari saudara kandungnya, Chery Tiggo 9 CSH, yang menempati posisi kedua dengan 300 unit. Selisih hampir 900 unit ini menunjukkan dominasi yang sangat kuat di segmen SUV bongsor.
Wuling dan Geely Ikut Meramaikan Papan Atas
Wuling tak mau ketinggalan. Lewat Wuling Eksion PHEV, merek asal China ini mencatatkan penjualan 258 unit, disusul Wuling Cortez Darion PHEV dengan 255 unit di posisi keempat. Kedua model MPV hibrida colok ini membuktikan permintaan pasar yang stabil. Di posisi kelima, pendatang baru Geely Starray berhasil didistribusikan sebanyak 210 unit.
Jaecoo, Sub-brand Chery, Mulai Unjuk Gigi
Sub-brand dari Chery Group, Jaecoo, juga mulai menunjukkan performa. Jaecoo J8 SHS ARDIS mencatat 169 unit, sedangkan Jaecoo J7 SHS meraih 150 unit. Artinya, total penjualan grup Chery (Chery + Jaecoo) di segmen PHEV pada Mei 2026 mencapai lebih dari 1.800 unit.
Mazda dan Lexus Tertahan di Papan Tengah
Bagaimana dengan pabrikan Jepang? Mazda berada di papan tengah melalui Mazda CX-8 yang hanya membukukan 41 unit. Sementara itu, Toyota Astra Motor melalui brand Lexus harus puas dengan 20 unit untuk Lexus RX 450h+, dan Lexus NX 450h+ tercatat nihil penjualan alias 0 unit.
Pabrikan Eropa: Volvo dan BMW Cuma Satu Digit
Raksasa otomotif Eropa juga bergerak lamban. Volvo XC90 hanya terdistribusi 6 unit, sedangkan Volvo XC60 mencatat angka 0 unit. SUV performa tinggi BMW XM bahkan hanya terjual 2 unit sepanjang Mei 2026. Angka-angka ini kontras dengan agresivitas produk China yang membanjiri pasar.
Secara keseluruhan, data Gaikindo Mei 2026 mengonfirmasi bahwa pasar PHEV Indonesia bergeser dari segmen premium eksklusif menjadi lebih massal. Kehadiran produk hibrida colok asal China yang menawarkan fungsionalitas tinggi dengan harga lebih rasional menjadi pemicu utama perubahan peta persaingan ini.