SUMATERA UTARA — Film horor surreal "Backrooms" akhirnya tayang di HBO Max setelah jadi film terlaris A24 dengan pendapatan mendekati USD 400 juta. Disutradarai Kane Parsons dalam debutnya, film ini dibintangi Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve, cocok buat penonton yang suka horor atmosferik ketimbang jumpscare murahan.
Backrooms bermula dari sebuah foto yang diunggah ke internet: ruangan department store kosong yang sedang direnovasi. Dari satu gambar sederhana itu, lahir jagat lore yang berkembang jadi ribuan video, game, dan teori tentang apa yang bersembunyi di lorong-lorong kuning tak berujung. Kini konsep itu jadi film panjang pertama yang disutradarai Kane Parsons.
Dari Foto Internet ke Layar Lebar: Perjalanan Backrooms
Backrooms mencatat pendapatan mendekati USD 400 juta, menjadikannya film terlaris A24 sepanjang sejarah studio. Angka itu menempatkan film ini sejajar dengan "Obsession" dan "The Odyssey" dalam membangkitkan musim panas bioskop tersibuk sejak pandemi.
Pencapaian tersebut tergolong mengejutkan untuk film horor eksperimental. Parsons, yang baru pertama kali menyutradarai film panjang, membawa estetika surealis ke ruang teater arus utama.
Alur Cerita: Clark, Terapis Mary, dan Labirin Kuning
Chiwetel Ejiofor memerankan Clark, pemilik toko furnitur yang baru bercerai dan tengah berjuang menyelamatkan bisnisnya dari kebangkrutan. Suatu malam, ia menemukan pintu tersembunyi di basement toko yang mengarah ke jaringan ruangan tak berujung, melampaui logika dan fisika.
Obsesi Clark memetakan dimensi ruangan itu membawanya ke titik tak bisa kembali. Ia menyadari ada jiwa-jiwa lain yang tersesat di lorong yang sama.
Terapisnya, Mary (Renate Reinsve), khawatir dengan kondisi pasiennya dan melakukan kunjungan. Ia pun tersedot ke dunia tersembunyi yang sama menakutkannya. Di lorong-lorong bengkok itu, sesuatu yang jahat bersemayam, dan Clark, yang kepahitannya diperkuat kekuatan terkutuk tempat itu, perlahan kehilangan kewarasan.
Kenapa Backrooms Layak Ditonton di HBO Max
Horor Backrooms bertumpu pada atmosfer, bukan jumpscare. Ketegangan dibangun lewat adegan kejar-kejaran panjang dan keanehan visual yang muncul di setiap sudut. Pendekatan ini mengingatkan pada horor surealis yang lebih mengutamakan rasa tidak nyaman ketimbang kejutan mendadak.
Parsons membangun tone gelap dan mengganggu sejak menit pertama, dan atmosfer itu konsisten sampai akhir. Pengembaraan Clark dan Mary terasa seperti mangsa yang sedang diburu, labirin liminal berubah jadi ancaman yang makin tidak masuk akal semakin lama dilihat.
Film ini tidak menggandeng penonton yang belum familiar dengan lore Backrooms. Cara film menjawab, dan sengaja menghindari menjawab, meninggalkan ruang bagi penonton untuk mengisi sendiri celah-celah ceritanya.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menonton
Pendekatan naratif yang sengaja menggantung itu tidak akan cocok untuk semua orang. Penonton yang terbiasa dengan horor konvensional dengan penjelasan jelas mungkin akan merasa frustrasi. Backrooms menuntut kesabaran dan kemauan mengikuti alur surealisnya sampai akhir.
Kabar baiknya, tidak ada lore yang wajib diketahui sebelum menonton. Penonton yang masuk tanpa pengetahuan soal Backrooms tetap bisa menikmati film ini.
Verdict
Backrooms adalah horor atmosferik yang berhasil membawa fenomena internet ke layar lebar tanpa kehilangan sisi ganjilnya. Cocok buat penonton yang menyukai horor surealis dan tidak keberatan dengan cerita yang membiarkan penonton menafsirkan sendiri. Kurang cocok buat yang mencari horor dengan penjelasan lengkap dan resolusi jelas.