MEDAN — Lima prioritas yang dibawa ke Bappenas disusun dari sejumlah persoalan yang dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Gubernur Bobby Nasution menyebut tantangan utama saat ini adalah menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan potensi daerah seperti sawit, karet, kelapa, produksi pangan, dan energi.
"Namun tantangannya adalah menghubungkan pusat pertumbuhan ini dengan potensi seperti sawit, karet, kelapa, produksi pangan dan energi ke dalam satu ekosistem ekonomi yang terintegrasi," ujar Bobby.
RSU Haji Medan Diminta Kembali Masuk Daftar Pinjaman Luar Negeri
Proyek pengembangan RSU Haji Medan menjadi rumah sakit rujukan berstandar internasional menjadi prioritas pertama yang disampaikan. Pembangunannya direncanakan memakai dukungan Economic Development Cooperation Fund (EDCF) dari Pemerintah Korea Selatan melalui Korea Eximbank.
Bobby menyebut pada Februari 2024 proyek tersebut telah sampai pada tahap permintaan resmi dan komitmen pembiayaan. Skema pembiayaannya memiliki bunga 0,05 persen dengan tenor 40 tahun dan masa tenggang 10 tahun.
Setelah penyesuaian RPJMN 2025-2029, proyek RSU Haji Medan belum tercantum dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah 2025-2029. Usulan re-entry telah disampaikan kepada Bappenas pada 22 September 2026.
"Mengingat perjanjian kerja Indonesia-Korea akan berakhir pada 31 Desember 2026, percepatan proses menjadi sangat penting agar peluang pembiayaan ini tetap dapat dimanfaatkan," kata Bobby.
Kepulauan Nias Diusulkan Terima Program Afirmasi 2027-2029
Percepatan pembangunan Kepulauan Nias menjadi prioritas berikutnya. Wilayah itu dinilai punya potensi pariwisata dan budaya, kelautan dan perikanan, perkebunan, serta ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Pengembangannya masih terkendala konektivitas, biaya logistik, akses pasar, dan kesenjangan infrastruktur. Pemprov Sumut mengusulkan program afirmasi Kepulauan Nias untuk periode 2027-2029.
"Kemudian untuk kawasan Kepulauan Nias, potensinya ada pada pariwisata-budaya, kelautan-perikanan, perkebunan, dan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pengembangannya masih terkendala konektivitas, biaya logistik, akses pasar serta kesenjangan infrastruktur," kata Bobby.
Usulan afirmasi mencakup konektivitas, layanan dasar dan sumber daya manusia, hilirisasi ekonomi lokal, pariwisata Nias Selatan, serta penguatan Gunungsitoli sebagai pusat ekonomi dan logistik. Pemprov juga mengusulkan insentif khusus untuk mendorong investasi di kawasan tersebut.
Tiga Pelabuhan Diusulkan Jadi Satu Koridor Industri dan Logistik
Belawan, Kualatanjung, dan Seimangkei diusulkan dikembangkan dalam satu koridor industri dan logistik nasional. Belawan diarahkan sebagai pintu gerbang, Kualatanjung sebagai international hub, sedangkan Seimangkei menjadi pusat hilirisasi.
Pemprov meminta pemerintah pusat menyusun roadmap dan target pengembangan koridor tersebut untuk 2027-2029. Program dan pendanaan lintas kementerian juga diminta diintegrasikan agar kawasan-kawasan itu tidak berkembang sendiri-sendiri.
Pemulihan Pascabencana 2026-2028 Masuk Agenda Usulan
Poin terakhir yang dibawa ke Bappenas adalah program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumut 2026-2028. Program itu diarahkan pada hunian, infrastruktur dan konektivitas, layanan dasar, pertanian, serta pemulihan sosial ekonomi masyarakat.
"Poin terakhir adalah implementasi program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumut 2026-2028 yang fokus pada hunian, infrastruktur dan konektivitas, layanan dasar, pertanian, serta sosial ekonomi masyarakat," kata Bobby.
Seluruh usulan tersebut kini menunggu pembahasan lanjutan dengan kementerian dan lembaga terkait. Pemprov Sumut berharap setiap program memiliki target, pendanaan, dan tahapan pelaksanaan yang jelas sebelum masuk ke dokumen perencanaan pusat.