Pencarian

BKKBN dan Komisi IX DPR Ajak Ratusan Warga Sei Bingai Langkat Cegah Stunting Demi Generasi Emas 2045

Kamis, 15 Oktober 2026 • 14:32:31 WIB
BKKBN dan Komisi IX DPR Ajak Ratusan Warga Sei Bingai Langkat Cegah Stunting Demi Generasi Emas 2045
Warga mengikuti sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat.

LANGKAT — Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) menyasar Kecamatan Sei Bingai dengan melibatkan warga setempat, aparatur desa, hingga tokoh agama. Forum ini menekankan bahwa menyiapkan Generasi Emas 2045 tidak cukup hanya dengan mencerdaskan anak, tetapi juga memastikan mereka tumbuh sehat dalam pengasuhan keluarga yang berkualitas.

Anggota Komisi IX DPR RI, Delia Pratiwi Br. Sitepu, menyebut perencanaan keluarga sebagai fondasi utama melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Menurutnya, perhatian pada kesehatan ibu dan anak harus menjadi prioritas bersama menuju Indonesia Emas 2045.

Stunting — gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis — menjadi salah satu tantangan yang terus diatasi. Delia mengajak masyarakat memahami bahwa anak bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting.

Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dan Peran Ayah Jadi Sorotan

Menurut Delia, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala sangat penting. Ia juga menyoroti perlunya menjaga kesehatan ibu sejak sebelum kehamilan, mencegah anemia, memenuhi kebutuhan gizi, serta memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi apabila memungkinkan.

Keterlibatan ayah dalam mendukung kesehatan dan kebahagiaan ibu serta pengasuhan anak dinilai menjadi bagian dari upaya membangun keluarga harmonis. Edukasi berbagai pilihan metode kontrasepsi — dari pil KB, suntik, implan, IUD, hingga kontrasepsi mantap — juga diberikan agar pasangan usia subur dapat menentukan pilihan sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatannya.

"Kualitas keluarga menjadi hal yang sangat penting. Kita tentu ingin anak-anak tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang baik, dan memiliki masa depan yang lebih baik," ujar Delia.

BKKBN Kini Dampingi Keluarga Sepanjang Siklus Kehidupan

Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Dra. Rabiatun Adawiyah, MPHR, menjelaskan bahwa transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga membawa penguatan peran dalam pembangunan keluarga. Kehadiran lembaga ini kini tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi.

Rabiatun menyebut pendampingan keluarga kini mencakup seluruh siklus kehidupan, mulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, masa balita, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Sejumlah program prioritas diperkenalkan, di antaranya:

  • Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING)
  • Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA)
  • Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)
  • Lansia Berdaya (SIDAYA)
  • Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (MBG 3B)

Program GATI menarik perhatian peserta. Melalui dialog ringan, Rabiatun mengajak para ayah lebih aktif terlibat dalam kehidupan anak, termasuk mengantar anak ke sekolah, mengambil rapor, serta membangun komunikasi yang dekat. Kehadiran ayah dinilai bukan sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga memberikan perhatian, kasih sayang, dan dukungan emosional bagi tumbuh kembang anak.

Rabiatun turut mengingatkan pentingnya pengawalan program MBG 3B agar manfaatnya benar-benar dirasakan kelompok sasaran. Penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan pihak terkait diharapkan memperkuat koordinasi dalam penyaluran program. Lewat SIDAYA, masyarakat lanjut usia didorong tetap sehat, mandiri, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.

Gotong Royong Cegah Stunting lewat Program GENTING

Perwakilan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Langkat, Dr. H. Agus Salim, mengajak masyarakat memperkuat semangat gotong royong dalam pencegahan stunting. Salah satunya melalui program GENTING yang mendorong keterlibatan berbagai pihak sebagai Orang Tua Asuh untuk membantu keluarga berisiko stunting.

Menurut Agus Salim, penanganan stunting tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan dukungan masyarakat, pemerintah desa, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan. Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan calon pengantin sebagai langkah awal mencegah lahirnya anak stunting.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: asaberita.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks